poetry compilation in may 2009

1

EPITAF UNTUK CHICO MENDEZ

Menyebrang langit

Mencari makam yang ditanami pohon akasia

Sepanjang jalan yang meliuk-liuk

Sepanjang jalan membentur luka

Aku mengendus bau wewangian

Pada pengembaraan yang jaraknya berhenti di titik cahaya

Pertemuan malaikat anestetis ketika balabad bersorak ramai

Mencabuti udara-udara yang lembab di dada kanan

lalu sembunyi. Membaca epitaf.

Chico, aku masih tenggelam di bening embun

Terlalu sendu jika darahmu tumpah pada dedaunan

Mengalir laju di sepanjang Amazon

Langit menjadi semakin merah melindungimu

Tertembak cahaya dari darah yang menyilaukan

“jangan ada yang mau tunduk pada uang,

uang hanya bisa dipegang sesaat,

uang hanya bisa membuat kita

waspada

Sedang pohon-pohon ini tumbuh ratusan tahun.

Mampukah mengganti nafas selama ratusan tahun

untuk jutaan manusia?”

Chico, kau terlalu asyik berdialog dengan hutan

Melempar batu-batu bagi para penyamun

Sedang tumbal menunggumu

Dari jagal yang dihidupi

Akar-akar meninabobokanmu selamanya.

Bdg 11 Mei 2009.

2

SEPANJANG INSOMNIA, AKU MENGINTIPMU

Aku mengintipmu lagi

Lewat aroma rokok

Yang sama-sama kita icip

Pada ujung batang putih langsing

Satu malam yang tanganmu dingin menggenggamku

Menyebrangi jalan dan hinggap ke ruang hedonis

Lalu kau berkata:

Kita melawan kode etik penyair

Lebih baik cari saja ruang seduh

Melawan batasbatas yang melelahkan

Di lentik alismu

Aku menebak candu

tentang seorang penyair

Menggelitik waktu untuk berhenti

Dan ngisap lagi batang batang baru

Akankah kau datang

Ke lorong rindu

Tanpa mengganggu istriku tidur

Menyelinap ke pintu belakang

Setelah garis tangan itu

Membuka jalan menuju cinta

sementara

sepanjang insomnia

Aku masih mencium aroma

Dari ujung yang mengintipmu

“Bandung 24 Mei 2009”

3

HUTAN

Mata uang memberangus

Mulut-mulut binatang buas yang berpatroli

Mengelilingi rimbun pohon jagat raya

Membagi ke saku celana dimana para komisi

Serasa mendapat BLT dari limpahan pengusaha

Palu-palu berjoget melangsungkan histeris

Kematian yang dihitung mesin gergaji

Selalu mengikuti aturan yang tak pernah dipasalkan

Mengalirkan pohon-pohon ke gerbang apartemen, ke toko-toko

Negara tetangga, ke saku-saku para komisi

O, hutang kelahiran

Dalam dada jagat raya

Udara akan segera di-PHK

Sisanya bekerja terbata-bata

Bandung 2009

4

Lawamah Dunya’

Adalah cinta sedang berdansa dalam mimpi basah, lalu terbangun…

–ah, cuma mimpi!

Bandung, 2006

5

Memburu Sajak

Syarafku mengakar dan membelit jalanjalan

menuju cahaya. Sebelum sunyi memamahbiakan sendu

Aku memburuMu sampai ke halaman akhir

yang sajaksajaknya tumpah di tangan Nabi

yang tintanya berhujanan membasahi padang pasir

Aku ingin melantunkan dangding-danging

Menciptakan cahaya supersonik

Melesat. Menembus apa yang diangankan

Dan membujur ke arah do’a

Lalu kubangun ruang sakral

Diamana angin merayap. Semutsemut berdatangan. Berbaris.

Dan membentuk kor.

Apa saja yang datang dengan tibatiba

Menuliskan riwayatnya dalam buku tamu sejak sebelum

raga ditanam dalam kelamin.

Mari menari dalam kegelapan sunyi

Berputarlah sampai izrail menepi

Bdg. Mei 2009

6

NYANYIAN PANGANDARAN

Di sepanjang pasir putih

Aku berebut angin

Menarik utara ke selatan

Mencium bau Atlanta

Kesejukan membetahkan benda-benda

Tercipta dari cinta Tuhan kuasa

Menyelam dan kutemukan sorga

Para bidadari menari di terumbu karang

Aku tak buru-buru hinggap

Pada dunia yang enggan sejuk

Berlama-lama saja

Hingga merubah wujudku

Menjadi duyung

:Pangandaran dalam adegan tengah malam

Aku memaknai ombak-ombak itu sekelompok orkestra

Dimainkan jutaan kubik buih

Ketika aku bercumbu dengan purnama

Dan bintang-bintang yang cemburu

Mengabadikan nyanyian pangandaran

Dalam setiap sujudku yang panjang

Agar sunami enggan lagi datang

Membubarkan pertunjukan siang malam

14 Mei 2009

7

SENANDUNG LARUNG

Senandung larung berpacu mendaki khidmat. Setelah kiblat, wajahMu membiur ke ubun-ubun. Lekas jidat ini membisu, mencurhat liar-liar hati sejak rindu di ruang gelap itu memabukkan waktu.

Seperti aku yang membayangMu, berkali terbungkus isyarat kilat api menjilat birahi.

Kuali tak mampu menampung ketegangan palung air mata, menduka wajah plastik sejak do’a berubah menjadi curhatan dosa-dosa. Beri aku totalitas Tuhan… seperti Nuh-Mu mengalir ke titik akhir.

Bandung, 17 Agustus 2008.

8

MUJAHID BUKAN HANYA MILIK MEREKA YANG BERDARAH!”

Separuh abad sejak Nakba

Laut merah benarbenar merah

Malam kelapkelip

Siang tumpah darah

Gaza tak bisa makan rumput

Atau runtuhan masjidmasjid

Sedang tiga jam telah surut

Tinggalah ajal siap jemput

Satu sipil dibayar seratus sipil

Satu batu dilepas peluru

mereka yang Zionis

Menjuntai wajahwajah manis

Palestin belum bisa bernafas

Tak ada ruang untuk pasrah

Lalu mencebur ke laut merah

Kisahmu mungkin menglir disana

Mengikuti arus sampai firdaus

Dunia menetes pikau

Tak ada jalan setapak menuju sana

Negriku ingin membagi duka

Kirimlah ke titik suci

Raga, doa dan bekal roti

Karena mujahid,

bukan hanya milik mereka yang berdarah!

Bandung, Sepanjang agresi 2009

9

GAZA; KEMENANGAN SORGA

Darah luber, lekat di sorbansorban

Amuk awal tahun bukan kebang api

Tapi arteri mencangkul kuburankuburan mati

Hingga Gaza sempit bagi sang mujahid

Di belahan empat mata angin

Tivitivi terus mengheadline jumlah korban

Sebagian turun ke jalanjalan

Membakar bintang biru yang sembilu

Jagat dunya mengkibar bendera

Palesitina, tanah warisan tetua

1948 yang duka mengusir damai

Sampai sepanjang malam gusar

Menunggu masuk angin ke tubuh lapar

Pertemuanpertemuan telah dimakan lalat

Bersama terciumnya bau fosfor yang sengat

Mendidihkan rerumput, kulit dan tetes amis

Gaza kemenanganmu bukan di dunia,

tapi sorga!

Bandung, 2009

penulis: Arry esge